Selasa, 09 Desember 2008

10 orang paling jenius

Nah, saya paling suka kalo masalah ginian. Cari-cari data orang-orang paling jenius di dunia dan sapa tahu ada yang sukarela nulis nama saya di daftar itu. :O :r :O :r Wkwkwk.. Tapi setelah saya mencari-cari, semua itu ternyata cuma impian semata.. :( :( :( Tapi gak apa-apa dey!! Mungkin saya cuma kalah tenar dibanding orang-orang itu. :) Oya, jangan terkejut pula kalo nama-nama besar seperti Albert Einstein tidak termasuk ke dalam daftar ini. :o :o :o Padahal banyak anggapan bahwa dia adalah manusia dengan otak terhebat sepanjang masa, tapi perlu kita ingat lagi bahwa yang menentukan sukses bukan hanya IQ saja, melainkan banyak faktor-faktor pendukung lain. Yawdah dey, daripada kelamaan sedihnya mending langsung aja saya kasih TOP 10 GENIOUS PERSON IN THE WORLD:

10. Madame De Stael IQ=180
Nama lengkapnya panjang banget, “Anne-Louise-Germaine Necker, Baronne (baroness) de Stael-Holstein” tapi biar singkat dipanggil Madame De Stael. Dia adalah wanita berkebangsaan Swiss-Prancis yang berkecimpung di bidang propaganda politik dan konversasionalis, yang melambangkan kultur Eropa pada saat itu. Dia juga menjembatani ideologi dari Neoclassicisme ke Romanticisme.


9. Galileo Galilei IQ=185
Nah ini dia favorit saya. Dia adalah seorang filosofis, astronom, dan matematikawan yang berkontribusi besar dalam Sains dan Astronomi. Rumusannya tentang Inersia dan lintasan parabola menandai dimulainya perubahan mendasar dalam studi pergerakan. Dan pada akhirnya dia berhasil menemukan teleskop astronomi. Hidupnya mengalami banyak masalah karena dia mengatakan bahwa ada kesalahan dalam Alkitab. Ini tentu saja menimbulkan kemarahan pihak gereja.

8. Bobby Fischer IQ=187
Robert James Fischer adalah seorang grandmaster USA dalam bidang catur. Dia adalah grandmaster termuda dalam sejarah saat menerima gelar itu pada tahun 1958. Permainannya yang brillian mengantarkannya menjadi seorang juara dunia pada tahun 1972. Fischer mulai belajar catur sejak usia 6 tahun dan pada 16 tahun dia di-DO oleh sekolahnya karena terlalu senang bermain catur. Hmm.. Kalo aja dia masih hidup saya pengin adu catur. Siapa mau dukung saya?? :p :p :p :p

7. Ludwig Wittgenstein IQ=190
Ludwig Josef Johann Wittgenstein adalah seorang filosofis Austria kelahiran Inggris yang banyak dianggap orang sebagai filsuf terbesar abad XX. Kepribadian dan karismanya menjadi pesona tersendiri bagi orang-orang sehingga banyak yang tertarik dengan sepak terjangnya di dunia filsuf.

6. Blaise Pascal IQ=195
Seorang matematikawan, fisikawan, filsuf agama, dan master prosa asal Prancis. Dialah yang membangun pondasi probabilitas, yang sekarang dikenal dengan Hukum Tekanan Pascal, dan mempropagrasikan sebuah doktrin agama yang menekankan penggunaan hati daripada alasan.

5. John Stuart Mill IQ=200
Filsuf dan pakar ekonomi asal Inggris ini dikenal sebagai wartawan di reformasi pada abad XIX. Dia adalah seseorang yang ekstrim dengan kemudahan dalam hidup ini.

4. Gottfried Wilhelm Von Leibniz IQ=205
Pria yang biasa dipanggil Leibniz ini adalah seorang filsuf Jerman yang mengenyam pendidikan di bidang hukum dan filsafat. Dia memainkan peran penting dalam politik Eropa pada abad XVII. Dia menemukan kalkulus dari Newton dan juga sistem biner.

3. Emanuel Swedenborg IQ=205
Seorang ilmuwan Swedia yang juga berperan dalam bidang filsafat dan teologi. Dia juga menafsirkan kitab-kitab Tuhan.

2. Leonardo da Vinci IQ=205
Siapa sih yang gak kenal ma orang ini?? Pelukis Italia yang juga ahli dalam bidang mekanik dan arsitektur ini merupakan salah satu tokoh terbesar di zaman Renaissance. Pelukis bertangan kidal ini sering mengamati mayat untuk melihat struktur anatomi tubuh mereka. Inilah yang membuat lukisan-lukisannya begitu alamiah. Salah satu karya terbesarnya adalah lukisan Monalisa.

1. Johann Wolfgang von Goethe IQ=210
Tokoh ini berkecimpung di banyak bidang, mulai dari sains, per-film-an, kritikus, hingga novelis. Dia dikenal sebagai filosofis besar di Jerman bahkan hingga dunia. Sayangnya tidak banyak info yang saya dapatkan tentang tokoh yang satu ini.

sejarah Filsafat hukum

SEJARAH FILSAFAT HUKUM
DAN PERKEMBANGAN

Filsafat hukum dilandasi oleh sejarah perkembangannya yaitu yangmelihat kepada sejarah filsafat barat, dimulai dengan filsafat kuno dan terbagi dalam beberapa zaman seperti zaman Filsafat Pra – Sokrates, tokoh pertamanya adalah Thales (+ 625 -545 SM) dikuti dengan tokoh kedua yaitu Anaximandros ( + 610-540 SM) dan ada juga tokoh lain yang bernama Pythagoras (+ 580 – 500SM), Xenophanesa (+ 570-430SM), Herakleitosa (+ 540-475SM), Parmenidesa (+540-475SM), Zeno (490 SM), Empedoklis (492-432 SM), Empedokles (492-432 SM), Anaxagoras (499-420 SM) dan yang terakhir adalah Leukippos dan Demokritos, keduanya yang mengajarkan tentang atom. Akan tetapi yang paling dikenal adalah Demokritos (+ 460-370 SM) sebagai Filsuf Atomik.
Perkembangan filsafat tersebut terus berkembang sampai kepada para ahli filsafat seperti kaum sofis dan Sokrates, Protagoras dan ahli sofis yaitu Gorglas yang terkenal diathena. Masih banyak lagi para ahli filsafat dari beberapa periode seperti pada masa Filsafat pada abad Petengahan, filsafat masa peralihan ke zaman moder dan Filsafat Modern.Akan tetapi perkembangan filsafat tersebut, sampai mengarah keakar fisafat hukum pada era abad ke 14-15, dimana filsafat hukum menjadi landasan ilmu-lmu hukum lainnya, seperti Ilmu Politik, Ekonomi,Budhaya dan lainnya.
Demikianlah sekilas darai kata pengantar penulis didalam penulisan makalah yang berjudul “ Sejarah Filsafat Hukum Dan Perkembangannya”, semoga pula makalah Sejarah Filsafat Hukum ini, bermanfaat bagi kalangan mahasiswa dan kalangan Akademis pada umumnya, Terima Kasih.
LATAR BELAKANG.
Perkembangan Filsafat hukum dimulai dengan sejarah filsafat barat, yang merupakan filsafat kuna dan terbagi dalam beberapa zaman seperti zaman Filsafat Pra – Sokrates, tokoh pertamanya adalah Thales (+ 625 -545 SM) dikuti dengan tokoh kedua yaitu Anaximandros ( + 610-540 SM) dan ada juga tokoh lain yang bernama Pythagoras (+ 580 – 500SM), Xenophanesa (+ 570-430SM), Herakleitosa (+ 540-475SM), Parmenidesa (+540-475SM), Zeno (490 SM), Empedoklis (492-432 SM), Empedokles (492-432 SM), Anaxagoras (499-420 SM) dan yang terakhir adalah Leukippos dan Demokritos, keduanya yang mengajarkan tentang atom. Akan tetapi yang paling dikenal adalah Demokritos (+ 460-370 SM) sebagai Filsuf Atomik.
Sampai kepada Perkembangan sejarah filsafat yang terkenal dengan para ahli filsafat, seperti kaum sofis dan Sokrates, Protagoras dan ahli sofis yaitu Gorglas yang terkenal diathena. Masih banyak lagi para ahli filsafat dari beberapa periode seperti pada masa Filsafat pada abad Petengahan, filsafat masa peralihan ke zaman modern dan Filsafat Modern. Perkembangan filsafat tersebut adalah merupakan sebagai akar dari fisafat hukum yaitu pada era abad ke 19, dimana filsafat hukum menjadi landasan ilmu-ilmu dibidang hukum, seperti Ilmu Politik, Ilmu Ekonomi, dll..

KERANGKA TEORI DAN KONSEP.
Dengan didasari oleh Kerangka teori dan konsep tersebut diatas, penulis memakai kerangka teori dan konsep dari Filsafat Kuna yaitu Thales dari Milotos yang difinisinya adalah :
“ Bahwa asal mula segalanya dari air, yang dapat diamati dalam bentuk yang bermacam-maca, tampak sebagai benda halus (uap), benda cair (air), dan sebagai benda keras (es) ”.
Teori dan Konsep dari Filsafat Abad Pertengahan (Skolastik)bernama Johanes Eriugena yaitu :
“ Bahwa makin umum sifat sesuatu, makin nyatalah sesuatu itu, yang paling bersifat umum itulah yang paling nyata, oleh karena itu zat yang sifatnya paling umum tentu memiliki realitas yang paling tinggi dan zat yang demikian itu adalah alam semesta, alam semesta keseluruhan realita, hakekat alam adalah satu, esa “.

Pengertian Filsafat
Pengertian Filsafat adalah berasal dari kata Yunani yaitu Filosofia berasal dari kata kerja Filosofein artinya mencintai kebijaksanaan, akan tetapi belum menampakkan hakekat yang sebenarnya adalah himbauan kepada kebijaksanaan. Dengan demikian seorang filsuf adalah orang yang sedang mencari kebijaksanaan, sedangkan pengertian “ orang bijak” (di Timur) seperti di India, cina kuno adalah orang bijak, yang telah tahu arti tahu yang sedalam-dalamnya(ajaran kebatinan), orang bijak/filsuf adalah orang yang sedang berusaha mendapatkan kebijaksanaan atau kebenaran, yang mana kebenaran tersebut tidak mungkin ditemukan oleh satu orang saja,
Difinisi bermacam-macam, terdapat satu difinisi filsafat yaitu “Usaha manusia dengan akalnya untuk memperoleh suatu pandangan dunia dan hidup yang memuaskan hati”. ( difinisi ini sepanjang abad). Pertama-tama difinisi tersebut diatas adalah terdapat kata-kata “ Dengan akalnya” mendapat tekanan artinya tidak dapat disangkal, bahwa semua orang, melalui agama masing-masing, telah memiliki suatu pandangan dunia dan hidup.Dari mana asal dunia dan manusia serta hidupnya, bagaimana manusia harus hidup didalam dunia ini, semuanya itu telah diajarkan oleh agama, baik oleh agama-agama dunia yang besar maupun agama-agama suku yaitu dengan melalui wahyu. Bahwa difinisi tersebut diatas adalah menerima pandangan dunia dan hidup orang lain, jika hal tersebut memuaskan dirinya, jika tidak memuaskan ia akan berusaha terus, mengoreksi pandangan orang lain dan seterusnya.
Yang melatar belakangi filsafat kuna adalah rasa keingin tahuan dari manusia dan rasa keingin tahuan manusia dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak/ susah untuk mencari jawabannya. Akan tetapi akal manusia tidak puas dengan keterangan dongeng atau mite-mite dan mulai manusia mencari-cari dengan akalnya dari mana asal alam semesta yang menakjubkan itu. Dan kemenangan serta jawaban tersebut diperoleh secara berangsur-angsur, berjalan hingga berabad-abad lamanya.Berawal dari mite bahwa pelangi atau bianglala adalah tempat para bidadari turun dari surge, mite ini disanggah oleh Xenophanes bahwa :” pelangi adalah awan” dan pendapat Anaxagoras bahwa pelangi adalah pemantulan matahari pada awan ( pendapat ini adalah pendapat pemikir yang menggunakan akal). Dimana pendekatan yang rasional demikian menghasilkan suatu pendapat yang dapat dikontrol, dapat diteli akal dan dapat diperdebatkan kebenarannya.Para pemikir filsafat yang pertama hidup dimiletos kira-kira pada abad ke 6 SM, dimana pada abad tersebut tentang pemikiran mereka disimpulkan dari potongan-potongan, yang diberitakan kepada manusia dikemudian hari atau zaman. Dan dapat dikatakan bahwa mereka adalah filsafat alam artinya para ahli fikir yang menjadikan alam yang luas dan penuh keselarasan yang menjadi sasaran para ahli filsafat tersebut (objek pemikirannya adalah alam semesta).
Tokoh pertamanya yang melakukan penyelidikan adalah Thales (+ 625 -545 SM) dikuti dengan tokoh kedua yaitu Anaximandros ( + 610-540 SM) dan ada juga tokoh lain yang bernama Pythagoras (+ 580 – 500SM), Xenophanesa (+ 570-430SM), Herakleitosa (+ 540-475SM), Parmenidesa (+540-475SM), Zeno (490 SM), Empedoklis (492-432 SM), Empedokles (492-432 SM), Anaxagoras (499-420 SM) dan yang terakhir adalah Leukippos dan Demokritos, keduanya yang mengajarkan tentang atom. Akan tetapi yang paling dikenal adalah Demokritos (+ 460-370 SM) sebagai Filsuf Atomik.
Macam-Macam Aliran Filsafat.
Aliran filsafat Ini terlihat dengan jelas dari beberapa zaman para ahli filsafat ini yaitu seperti :
I. Aliran filsafat Kuna yang terdiri dari beberapa maszab seperti 1. Filsafat Pra Sokrates, 2. Filsafat Sokrates, Plato dan Aristoteles aliran ini dibagai lagi menjadi a.Kaum Sofis dan Sokrates, b.Plato dan c. Aristoteles, 3. Filsafat Helenisme dan Romawi dan 4. Filsafat Patristik yaitu : a. Patristik Timur dan b. Patristik Barat.
II. Aliran Filsafat Abad Pertengahan yang terdiri dari 1. Aliran Awal Skolastik, 2. Aliran Zaman Kejayaan Skolastik dan 3. Akhir Skolastik.
III. Aliran Filsafat Modern Dalam Pembentukannya. Yang terdiri dari :
1. Renaissance,
2. Filsafat Dalam Abad ke 17 :
a. Rasionalisme, Rene Descartes, Blaise Pascal dan Baruch Spinoza.
b. Empirisme, Thomas Hobbes, John Locke
c. Filsafat di Jerman, G.W Leibbniz, Chistian Wolff.
3. Filsafat Abad ke 18 :
a. Pencerahan ( Aufklarung).
b. Pencerahan di Inggris : George Berkeley, David Hume.
c. Pencerahan di Prancis : Voltaire, Jean Jacques Rousseau.
d. Pencerahan di Jerman : Immanuel Kant.
IV. Aliran Filsafat Abad ke 19 dan abad ke 20.
1. Filsafat Abad ke 19 :
a. Idealisme di Jerman : J.C.Fichte, FWI.Schelling, GWF.Hegel, Arthur Schopenhauer.
b. Positivisme : August Comte, John Stuar Mill, Herbert Spencer.
c. Kemunduran Filsafat Hegel dan Timbulnya Materialisme di Jerman : Ludwig Feuerbach, Karl Marx, Soren Kierkegaard, Friedrich Nietzsche.
2. Aliran Filsafat Abad ke 20 : a. Pramatisme : William James, John Dewey, b. Filsafat hidup : Henri Bergonm, c. Fenomenologi : Edmund Husserl, Max Scheler, d. Eksistensialisme : Martin Heidegger, Jean Paul Sartre, Karl Jaspers, Gabriel Marcel.
Demikianlah penjabaran sejarah filsafat hukum, yang pada dasarnya menjelaskan pengertian filsafat yang berasal dari yunani, dimana filsafat timbul karena terdapatnya fenomena-fenomena mengenai alam disebabkan keingin tahuannya para ahli filsafat tentang alam semesta.

ZAMAN FILSAFAT HUKUM
A. Sejarah Filsafat Kuna.
Para ahli filsafat tersebut diatas adalah sebagai pintu pemikiran tentang filsafat yang mengenai alam semesta.
1. Filsafat Pra Sokrates adalah filsafat yang dilahirkan karena kemenangan akal atas dongeng atau mite-mite yang diterima dari agama, yang memberitahukan tentang asal muasal segala sesuatu. Baik dunia maupun manusia, para pemikir atau ahli filsafat yang disebut orang bijak, yang mencari-cari jawabannya sebagai akibat terjadinya alam semesta beserta isinya tersebut. Sedangkan arti filsafat itu sendiri berasal dari bahasa yunani yaitu Filosofia artinya bijaksana/pemikir yang menyelidiki tentang kebenaran-kebenaran yang sebenarnya untuk menyangkal dongeng-dongeng atau mite-mite yang diterima dari agama. Pemikiran filsuf inilah yang memberikan asal muasal segala sesuatu, baik dunia maupun manusia, yang menyebakan akal manusia tidak puas dengan keterangan dongeng atau mite-mite tersebut dengan dimulai oleh akal manusia untuk mencari-cari dengan akalnya, dari mana asal alam semesta yang menakjubkan itu.
Miite-mite tentang pelangi atau bianglala adalah tempat para bidadari turun dari surge, mite ini disanggah oleh Xenophanes bahwa :” pelangi adalah awan” dan pendapat Anaxagoras bahwa pelangi adalah pemantulan matahari pada awan ( pendapat ini adalah pendapat pemikir yang menggunakan akal). Dimana pendekatan yang rasional demikian menghasilkan suatu pendapat yang dapat dikontrol, dapat diteli akal dan dapat diperdebatkan kebenarannya.Para pemikir filsafat yang pertama hidup dimiletos kira-kira pada abad ke 6 SM, dimana pada abad tersebut tentang pemikiran mereka disimpulkan dari potongan-potongan, yang diberitakan kepada manusia dikemudian hari atau zaman. Dan dapat dikatakan bahwa nereka adalah filsafat alam artinya para ahli fikir yang menjadikan alam yang luas dan penuh keselarasan yang menjadi sasaran para ahli filsafat tersebut (objek pemikirannya adalah alam semesta).
2.Filsafat Sokrates, Plato dan Aristoteles
a. Sokrates :
Sokrates hidup pada tahun kurang lebih tahun 469 – 399 SM dan Demokritos pada tahun + 460 – 370 SM yang kedua hidup sejaman dengan Zeno yang dilahirkan pada tahun + 490 SM dan lain-lainnya, serta disebut sebagai filsuf Pra Sokrates, dimana filsafat mereka tidak dipengaruhi oleh Sikrates. Harus diketahui bahwa kaum sofis hidup bersama-sama denga skrates. Diman hidup sokrates dan kaum sofis susah dipisahkan dan menurut Cicero, difinisi Sokrates adalah memindahkan filsafat dari langi dan bumi artinya sasaran yang diselidikinya bukan jagat raya melainkan manusia, dan bertujuan menjadikan manusia menjadikan sasaran pemikiran filsuf tersebut.( pemikiran sokrates adalah menjadi kritik kepada kaum sofis).
Sofis sebenarnya bukan suatu maszab melainakn suatu aliran yang bergerak dibidang intelek, karena istilah sofis yang berarti sarjana, cendikiawan seperi Pythagoras dan Plato disebut kaum sofis. Yang pada abad ke 4 para sarjana atau cendikiawan tidak lagi disebut Sofis melainkan menjadi Filosofos, Filsuf dan sebutan sofis dikenakan kepada para guru yang berkeliling dari kota kekota dan kaum sofis tidak menjadi harum lagi, karena sebutan sofis menjadi sebutan orang yang menipu orang lain/penipu karena para guru keliling tersebut dituduh sebagai orang yang meminta uang bagi ajaran mereka. Akan tetapi pada masa Pemerintahan Perikles (Athena) kaum sofis menjadi harum.
Protagoras (+ 480-411) memberi pelajaran di Athena dan inti sari filsafatnya adalah bahwa manusia menjadi ukuran bagi segala sesuatu, bagi segala hal yang ada dan yang tidak ada. Dan menurutnya Negara didirikan oleh manusia, bukan karena hokum alam. Protagoras meragukan adanya dunia dewa, oleh karenanya dia disebut orang munafik.
Sokrates memungut biaya pengajaran dengan tujuan untuk mendorong orang supay mengetahui dan menyadari sendiri dan dia juga menentang relativisme kaum sofis, karena dia yakin bahwa kebenaran yang obyektif. Mengenai pemberitaannya yang dipandang sebagai pemberitaan yang lebih dapat dipercaya adalah pemberitaan Plato dan Aristotele.
Sokrates melahirkan bermacam-macam orang atau ahli Politik, Pejabat, tukang dan lain-lainya, dengan mencapai tujuan yaitu membuka kedok segala peraturan atau hokum yang semu, sehingga tampak sifatnya yang semu dan mengajak orang melancak atau menelusuri sumber-sumber hukum yang sejati (Dengan Hipotese). Dan menurut sokrates bahwa alat untuk mencapai eudemonia atau kebahagiaan adalah kebajikan atau keutamaan (arête), akan tetapi kebajikan atau keutamaan tidak diartikan sacara moral. Sokrates terkenal dengan : Keutamaan adalah pengetahuan” yaitu Keutamaan dibidang hidup baik tentu menjadi orang dapat hidup baik.
Antisthenes adalah mengajar setelah kematian sokrates di gymnasium Kunosargos di Athena (kunos = anjing) dan menaruh perhatian kepada etika. Dan menurutnya manusia harus melepaskan diri dari segala sesuatu dan harus senantiasa puas terhadap dirinya sendiri. Azasnya adalah bebas secara mutlak terhadap semua anggapan orang banyak dan hukum-hukum mereka.
Aristippos dari Kirene, pandangannya kebalikan dari Antishenes, dimana satu-satu tujuannya perbuatan adalah kenikmatan (hedone), sekalipun demikian tugas orang bijak bukan untuk dikuasai oleh kenikmatan melainkan untuk menguasainya. Dengan demikian zaman sokrates adalah zaman yang sangat penting sekali, karena merupakan zaman mewujudkan zaman penghubung, yang menghubungkan pemikiran pra sokrates dan pemikiran Helenis. Misalnya Aristippos menggabungkan diri dengan Demokritos, Antishenes menggabungkan diri dengan Herakleitos dan kemudian ajaran ini timbul dalam bentuk lunak yaitu aliran Stoa.
b. Plato :
Adalah filsuf yunani petama yang berdasarkan karya-karyanya yang utuh. Dilahirkan dari keluarga terkemuka dari kalangan politisi, semula ingin bekerja sebagai seorang politikus, karena kematian Sokrates (muridnya selama 8 tahun), plato memendamkan ambisinya tersebut.
Kemudian Plato mendirikan sekolah akademi (dekat kuil Akademos) dengan maksud untuk memberikan pendidikan yang instensip dalam ilmu pengetahuan dan filsafat. Bahwa pembagian yang didasrkan atas patokan lahiriah, dalam 5 kelompok yaitu karyanya ketika masih muda, karyanya pada tahap peralihan, karyanya mengenai idea-idea, karyanya pada tahap kritis dan karyanya pada masa tuannya, yang diantara buku-buknya adalah Aspologia, Politeia, Sophistes, Timaios.(plato dapat dipandang sebagai monument atau tugu peringatan bagi sokrates.
Plato yakin bahwa disanping hal-hal beraneka ragam dan yang dikuasai oleh gerak serta perubahan-perubahan itu tentu ada yang tetap, yang tidak berubah. Menurut plato tidak mungkin seandainya yang satu mengucilkan yang lain artinya bahwa mengakui yang satu, harus menolak yang lain dan juga tidak mungkin kedua-duanya berdiri-sendiri, yang satu lepas daripada yang lain.Plato inin mempertahankan keduanya, memberi hak berada bagi keduanya.
Pemecahan palto bahwa yang seba berubah itu dikenal oleh pengamatan dan yang tidak berubah dikenal oleh akal. Demikianlah palto berhasil menjembatani pertentangan yang ada antara Herakleitos, yang menyangkal tiap perhentian dan Parmenides yang menyangkal tiap gerak dan perubahan.Yang tetap tidak berubah dan yang kekal itu oleh plato disebut “ Idea”.
Perbedaan antara sokrates dengan plato adalah dimana Sokrates mengusahakan adanya difinisi tentang hal yang bersifat umum guna menetukan hakekat atau esensi segala sesuatu, karena tidak puas dengan mengetahui, hanya tindakan-tindakan atau perbuatan-perbuatan sutu persatu, sedangkan Plato meneruskan usaha itu secara lebih maju lagi dengan mengemukakan, bahwa hakekat atau esensi segala sesuatu bukan hanya sebutan saja, tetapi memiliki kenyataan, yang lepas daripada sesuatu yang berada secara kongkrit yang disebut “Idea”, dimana Idea itu nyata ada, didalam dunia idea (hanya satu yang bersifat kekal).
Pada akhirnya Plato menekankan kepada kebenaran yang diluar dunia ini, hal itu tidak berarti bahwa ia bermaksud melarikan diri dari dunia. Dunia yang kongrit ini dianggap penting, hanya saja hal yang sempurna tidak dapat dicapai didalam dunia ini. Namun kita harus berusaha hidup sesempurna mungkin, yang tampak dalam ajarannya tentang Negara yang adalah puncak filsafat Plato.
Menurut Plato, golongan didalam Negara yang idea harus terdiri dari 3 bagian yaitu : a.Golongan yang tertinggi terdiri dari para yang memerintah (orang bijak/filsuf), b.Golongan pembantu yaitu para prajurit yang bertujuan menjamin keamanan, c. Golongan terendah yaitu rakyat biasa, para petani dan tukang serta para pedagang yang menanggung hidup ekonomi Negara.
c. Aristoteles :
Dilahirkan di Stagerira Yunani utara anak seorang dokterpribadi raja Makedonia dan pada umur kira-kira 18 tahun dikirim ke Athena untuk belajar kepada Plato. Dan setelah Plato meninggal Aristoteles mendirikan sekolah di Assos( Asia Kecil) pada tahun 342 SM kembali ke Makedonia untuk menjadi pendidik Aleksander yang agung.
Ketika Aleksandra meninggal pada tahun 322 SM, Aristoteles dituduh sebagai mendurhaka dan lari ke Khalkes sampai meninggal. Karyanya banyak sekali akan tetapi sulit menyusun secara sistematis, ada yang membagi-bagikannya, ada yang membagi atas 8 bagian yang mengenai Logika, Filsafat alam, psikologis, biologi, metafisika, etika, politik dan ekonomi, dan akhirnya retorika dan poetika.
Bukan saja pengertian-pengertian, akan tetapi pertimbangan-pertimbangan dapat digabungkan-gabungkan, sehingga menghasilkan penyimpulan. Penyimpulan adalah suatu penalaran dengannya dari dua pertimbangan dilahirkan pertimbangan yang ketiga, yang baru yang berbeda dengan kedua pertimbangan yang mendahuluinya. Umpamanya manusia adalah fana, gayus adalah manusia, jadi gayus adalah fana.
Cara menyimpulkan ini disebut syllogisme (uraian penutup), suatu syllogisme terdiri dari tiga bagian yaitu suatu dalil umum, yang disebut mayor (manusia adalah fana), suatu dalil khusus, yang disebut minor (Gayus adalah manusia) dan kesimpulannya (Gayus adalah fana), syllogisme mewujudkan puncak logika Aristoteles.
Para filsuf Elea (Parmenides, Zero) berpendapat bahwa gerak dan perubahan adalah hayalan. Dimana Aristoteles menentang dimana “Yang Ada” secara terwujud “yang ada” secara mutlak atau menjadi “ yang ada” secar terwujud, jikalau melalui sesuatu. Seperti dengan Plato, Aristoteles mengajarkan dua macam pengenalan yaitu pengenalan inderawi dan pengenalan rasional. Dan menurut Aristoteles, pengenalan inderawi memberikan pengetahuan tentang bentuk benda tanpa materinya. Sedangkan pengenalan rasional adalah pengenalan yang ada pada manusia tidak terbatas aktivitasnya, yang dapat mengetahui hakekat sesuatu, jenis sesuatu yang bersifat umum.
3. Filsafat Helenisme dan Romawi
Helenisme berasal dari bahasa yunani yaitu Hellenizein adalah roh dan kebudayaan yunani, yang sepanjang roh dan kebudayaan itu memberikan cirri-cirinya kepada para bangsa yang bukan yunani disekitar laut tengah, mengadakan perubahan dibidang kesusasteraan, agama dan keadaan bangsa-bangsa itu.
Pada zaman ini ini ada perpindahan filsafat yaitu dari filsafat yang teoritis menjadi filsafat yang praktis, yang makin lama menjadi suatu seni. Dimana orang bijak adalah orang yang mengatur hidupnya menurut akal dan rasionya. Yang termasuk aliran yang bersifat etis adalah aliran Epikuros dan Stoa, sedangkan yang lainnya diwarnai oleh agama diantaranya Filsafat Neopythagoris, filsafat Plattonis Tengah, filsafat Yahudi dan Neoplatonisme.
1.Epikuros (341-271SM) dilahirkan di Samos mendapat pendidikan di Athena, dan filsafat yang mempengaruhi pikirannya adalah Demokritos, 2. Stoa didirikan oleh Zeno dari Citium disiprus (336-264SM) dan Zeno mengajarkan ajarannya di gang diantara tiang-tiang (Stoa poikila) sebutan Stoa diturunkan daripada Stoa Poikila, 3. Skeptisisme dimana aliran yang menonjol adalah aliran Pyrrho dari Elis ( 360-270SM) yang berpangkal kepada realitivisme. Pengamatan memberikan pengetahuan yang sifatnya realtif, dimana manusi sering keliru melihat dan mendengar, seandainya pengalaman manusi benar, kebenaran itu hanya berlaku bagi hal-hal yang lahiriah saja, bukan bagi hakekatnya, 4.Filsafat Platonis Tengah adalah factor agama mengambil tempat yang penting sekali (kira-kira 117 M) dan Noumenios (akhir abad ke 2 M). Ajarannya adalah Yang ilahi berada jauh lebih tinggi daripada yang bendawi.Hakekatnya tidak dapat dikenal, namanya tidak dapat diucapkan, sifat-sifatnya, tidak dapat dimengerti. Diantara yang ilahi dan dunia ini terdsapat tokoh-tokoh setengah dewa, para demon, yang mempengaruhi jalannya segala sesuatu didunia ini, 5. Filsafat Yahudi yaitu diantara bangsa yahuni yang tersebar diluar tanah Palestina yaitu asia kecil, yunani, mesir dan disekitar laut tengah. Dimesir pusat pemukiman Yahudi dikota Aleksandra (kira abad ke 2 SM) orang yahudi dimesir ada 3 kelompok yaitu : a. Mereka yang setia pada ajaran nenek moyang dengan mengharapkan Mesias,b. mereka yang jatuh kepada aliran ortodoks seperti yang dipeluk oleh kaum Parisi dan 3. mereka yang mencoba mencampur agama yahudi dengan filsafat Helenis.Membicarakan Philo dilahirkan di Alexsandra dari keluarga imam adalah menyesuaikan agama yahudi dengan Helenisme. Agama yahudi diseintesekan dengan filsafat yunani, menurutnya kitab perjanjian lama (kitab agama yahudi bahkan juga terjemahan didalam bahasa yunani (y.i.Kitab Septuaginta) diwahyukan oleh Allah dengan para nabi sebagai alat-alatnya, 6. Neoplatonisme pada akhir dunia kuna kira-kira 5 abad sesudah Aristoteles, system ini dibentuk pada abad kedua masehi dan bertahan sampai pada abad ke 6 M.. Dapat dipandang sebagai usaha terakhir roh Yunani untuk menentang agama Kristen yang sedang tumbuh. Yang ingin menghidupkan ajaran Plato demi keselamatan dunia, dengan memperkaya segala yang terbaik dari segala sistim yang kemudian, disesuaikan dengan kebutuhan zaman, dimana unsur-unsur yang dimasukan adalah ajaran plato, Aristoteles, Stoa dan Philo. Pendiri Neoplatonisme adalah Ammonius Sakkas dari Aleksandra(175-242), akan tetapi ajaran ini tidak diketahui karena tidak meninggalkan tulisan apapun. Sedangkan penciptanya adalah Plotinos murid Ammorius.
4. Filsafat Patristik
Berasal dari kata latin yaitu Pater = bapa yang dimaksud adalah para bapa gereja).Zaman meliputi zaman para rasul (abad pertama) mengambil sikap yang bermacam-macam. Ada yang menolak filsafat yunani, karena dipandang sebagai hasil pemikiran manusia semata-mata, akan tetapi ada juga yang menerima filsafat yunani, karena perkembangan pemikiran yunani itu dipandang sebagai persiapan bagi injil. (keduanya tetap menggema di zaman pertengahan).
I. Patristik Timur adalah pemikiran Filsafti Kristen yang disebut apologit, para pembela agama Kristen yang membela iman Kristen terhadap filsafat yunani dengan memakai alas an-alasan yang diambil dari filsafat yunani sendiri.Diantara apologit yang paling penting ialah Aristides dari Athena yang menulis pembelaannya ditujukan kepada kaisar Hadrianus, Yustinus Martir dari Sikhem di Palestina, yang menulis surat pembelaan kepada Kaisar Antonius Pius dan menulis suatu dialog dengan orang yahudi yang bernama Tryphon, Tatianus dari Asur, murids Yustinus, yang menulis Diatessaron, semacam harmonisasi Injil.
- Irenaeus (202) menentang Gnostik dengan alas an yang dialetis dan dengan pembuktian dari kitab suci, dan menunjukkan bahwa uraian para ahli gnostik banyak yang bertentangan dengan aliran ini. Bahwa ajaran Gnostik berlandaskan Kitab Suci indah sekali.
- Klemens dari Aleksrandra ( 150-214) termasuk maszab Aleksandra., pada waktu Aleksandra menjadi pusat internasional, kebudayaan berkembang disitu, sehingga timbullah hidup filsafat yang girang. Suatu tujuan rangkap yaitu member batasan-batasan kepada ajaran Kristen guna mempertahankan diri terhadap filsafat yunani dan aliran Gnotik dan menerangi ajaran kriten dengan pertolongan filsafat yuanni.
- Origenes (185-254) adalah kepala sekolah kateketik tahun 231 dan memimpin sekolah kateketik di Kesaria. Filsafatnya adalah orang pertama yang memberikan suatu uraian sistematis tentang teoloogia, persoalannya adalah bagaimana hubungan iman dan pengetahuan. Menurut aliran Gnotik adalah iman harus dinaikan menjadi pengetahuan (gnosis), sehingga untuk tidak diperlukan lagi. Menurut Klemen, iman adalah awal pengetahuan yang harus berkembang menjadi pengetahuan, tetapi pengetahuan tidak meniadakan iman (iman tidak mempunyai tempat yang pusat).
- Gregorius Nazianze, Basilius yang Agung pengertian, Gregorius dari Nyssa(395) adalah para ahli filasafat yang mempelajari manusia dan Allah sebagai sang pencipta alam semesta. Filsafat ini mengajarkan bahwa akal dapat mengenal Allah dengan mempelajari hasil penciptaan, akan tetapi pengetahuan tidak menyelamatkan karena kasih karunia semata-mata, dimana puncak pengetahuan adalah “memandang Allah sendiri”.
- Jihanes Chrysostomos,Theodoros uskup di Sisilia, Ephraim orang Siria adalah tokoh-tokoh mewujudkan teologi dari pada filsuf. (tidak dibicarakan).
II. Patristik Barat.
Terdapat dua macam sikap terhadap filsafat yaitu aliran yang menolak filsafat dan yang menerimanya.
- Tertullianus (160-222), adalah menghasilkan karya yang ortodok Nampak dia menolak filsafat. Bagi orang Kristen wahyu sudah cukup, tiada hubungannya antara telogia dengan filsafat, antara Yerusalem dengan Athena, antara gerja dengan akademi, antara Kristen dengan bidat.
- Aurelius Augustinus (354-430) dilahirkan di Thagaste di Numedia, ayahnya adalah seorang bukan Kristen dan semasa hidupnya dia menuruti hawa nafsu, diombang-ambingkan dari Manikheisme kedalam Skeptisisme dan Neoplatonisme yang akhirnya bertobat. Karena kesalehan dan kecakapannya diangkat menjadi uskup di Hippo (392) dan membentuk “Filsafat Kristen” berpengaruh pada abat pertengahan. Ajaran yang terpenting adalah Confessiones (Pengakuan-pengakuan), De Trinitate (tentang Trinitas) dan De Civiate Dei( tentang Negara Allah). Aliran ini adalah dibidang Teologis dan Filsafat, pemikirannya bersifat filsafati semata-mata.(dia menetang aliran Skeptisisme, karena Skeptisisme disebabkan karena adanya pertentangan batiniah).
- Dionisios dari Areopagos, artinya Dionisios adalah bertobat karena pemberitaan rasul Paulus di Areopagos (kisah rasul 17:34), karyanya disebut Pseudo Dioysios Areopagita (abad ke 6 ada 4 buku dan 10 surat yang dikaitkan dengan nama tersebut). Yang menguraikan teologi kristiani, yang mengenal Neoplatonisme dan menurutnya Allah adalah asal segala yang ada, yang keadaannya transenden secara mutlak, sehingga tidak mungkin memikirkan tentang Dia dengan cara yang benar, dan memberikan kepadaNya nama yang tepat.
A. Sejarah Filsafat Abad Pertengahan.
Filsafat pada abad pertengahan adalah suatu arah pemikiran yang berbeda sekali dengan pemikiran dunia kuna, yaitu filsafat yang menggambarkan suatu zaman yang baru sekali ditengah-tengah suatu rumpun bangsa baru, bangsa eropa barat(disebut filsafat Skolastik).Sebagian soklastik mengungkapkan bahwa ilmu pengetahuan abad pertengahan diusahakan disekolah-sekolah dan ilmu terikat pada tuntutan pengajaran disekolah-sekolah. Skolastik timbul di dibiara di Ballia Selatan tempat pengungsian ketika ada perpindahan bangsa-bangsa. Pengaruh skolastik sampai ke Irlandia, Nederland dan Jerman dan kemudian timbul disekolah kapittel yaitu sekolah yang dikaitkan dengan geraja.Pelajaran sekolah meliputi tujuh kesenian bebas(Artes Liberales) yang dibagi menjadi 2 bagian yaitu Trivium, 3 matapelajaran bahasa, 4 mata pelajaran matematika, yang meliputi ilmu hitung, ilmu ukur, ilmu perbintangan dan music, yang dimaksud bagi mereka ingin belajar lebih tinggi teologia) atau ingin menjadi sarjana.
1. Awal Skolastik :
Johanes Scotus Eriugena (810-870) dari irlandia adalah seorang yang ajaib yang menguasai bahasa yunani dengan amat baik pada zaman itu dan menyusun suatu sistim filsafat yang teratur serta mendalam pada zaman ketika orang masih berfikir hany dengan mengumpulkan pendapat-pendapat orang lain, masih dikenal pula tokoh-tokoh lain yaitu Augustinus dan Dionisios dan Areopagos. Pangkal pemikiran metafisis adalah, makin umum sifat sesuatu, makin nytalah sesuatu itu, yang paling bersifat umum itulah yang paling nyata.Oleh karena itu zat yang sifatnya paling umum tentu memiliki realitas yang paling tinggi. Zat yang demikian adalah alam semesta, alam adalah keseluruhan realita dan oleh karena hakekat alam adalah satu,esa. Alam yang esa. Pada abad ke 12, dimana persoalan-persoalan yang timbul pada abad ke 11 tetap diteruskan pada abad ke 12 yaitu suatu usaha untuk mendapatkan suatu arah yang tetap, dengan dimungkinkan adanya suatu penelitian yang lebih mendalam tentang universalia dan akal. Anselmus dari Canterbury memberikan jawaban, yang ternyata telah memberi arah kepada pemikiran filsafat selama dari 150 tahun. Sedangkan pada persoalan kedua yaitu Universalia Abaelardus memberikan jawaban yang dalam pokoknya diambil alih oleh semua tokoh Skolastik.
- Anselmus dari Canterbury(1033-1109) dilahirkan di Aosta,Piemont, yang kemudian menjadi uskup di Canterbury, pola-pola pemikiran berasal dari pemikir Skolastik, bahwa skolatikus pertama dalam arti yang sebenarnya. Karya yang penting adalah” Cur dues homo” (mengapa Allah menjadi manusia), Manologion, Proslogion. Pemikiran dialektika atau pemikiran dengan akal diterima sepenuhnya bagi pemikir teologia, akan tetapi bukan dalam arti bahwa hanya akalah yang dapat memimpin orang kepada kepercayaan melainkan bahwa orang harus percaya dahulu supaya dapat mendapatkan pengertian yang benar akan kebenaran. Nisbah antara iman dan pengetahuan dengan akal dirumuskan demikian “ fides quaerens intelligam “ (iman berusaha untuk mengerti). Jadi pangkal pemikirannya sama dengan Augustinus dan Johanes Scotus Eriugema yaitu bahwa keberatan-keberatan yang diwahyukan harus dipercaya terlebih dahulu, sebab akal tidak memiliki kekuatan pada dirinya sendiri, guna menyelidiki kebenaran-kebenaran yang termasuk wahyu.
- Petrus Abaelardus (1079-1142) dilahirkan di Le Pallet dekat nantes, pandangannya tajam sekali dank arena wataknya yang keras sering bentrok dengan para ahli piker dan para pejabat gerejani. Jasa-jasanya terletak dalam pembaharuan metode pemikiran dan dalam memikirkan lebih lanjut persoalan-persoalan dialektis yang actual. Metode yang dipakai adalah rasionalistis, yang menundukkan iman kepada akal.Iman harus mau diawasi oleh akal. Yang wajib dipercaya adala apa yang telah disetujui akal dan telah diterima olehnya.
2. Zaman Kejayaan Skolastik. (abad ke 12)
Dalam abad ini ilmu pengetahuan berkembang, hingga timbul harapan-harapan baru bagi masa depan yang cerah. Metode yang dipakai Abaelardus ternyata membuka perspektif yang tidak terduga bagi filsafat dan ilmu teologia dan membangkitkan studi dalam ilmu kemanusia dan ilmu alam.

Kesimpulan :

Jelaslah bahwa Filsafat adalah berasal dari kata Yunani yaitu Filosofia berasal dari kata kerja Filosofein artinya mencintai kebijaksanaan, akan tetapi belum menampakkan hakekat yang sebenarnya adalah himbauan kepada kebijaksanaan. Sedangkan pengertian “ orang bijak” (di Timur) seperti di India, cina kuno adalah orang bijak, yang telah tahu arti tahu yang sedalam-dalamnya (ajaran kebatinan), orang bijak/filsuf adalah orang yang sedang berusaha mendapatkan kebijaksanaan atau kebenaran, yang mana kebenaran tersebut tidak mungkin ditemukan oleh satu orang saja.
Filsafat berkembang mulai zaman filsafat kuna sampai pada pertengahan seperti Filsafat Pra Sokrates adalah filsafat yang dilahirkan karena kemenangan akal atas dongeng atau mite-mite yang diterima dari agama, yang memberitahukan tentang asal muasal segala sesuatu, sampai kepada jaman filsafat Sokrates dan Demokritos pada tahun + 460 – 370 SM yang kedua hidup sejaman dengan Zeno yang dilahirkan pada tahun + 490 SM dan lain-lainnya, serta disebut sebagai filsuf Pra Sokrates, dimana filsafat mereka tidak dipengaruhi oleh Sikrates.

Harus diketahui bahwa kaum sofis hidup bersama-sama denga skrates, Plato adalah filsuf yunani petama yang berdasarkan karya-karyanya yang utuh. Plato yakin bahwa disanping hal-hal beraneka ragam dan yang dikuasai oleh gerak serta perubahan-perubahan itu tentu ada yang tetap, yang tidak berubah. Menurut plato tidak mungkin seandainya yang satu mengucilkan yang lain artinya bahwa mengakui yang satu, harus menolak yang lain dan juga tidak mungkin kedua-duanya berdiri-sendiri, yang satu lepas daripada yang lain.. Plato ini mempertahankan keduanya, memberi hak berada bagi keduanya. Skolastik timbul di dibiara di Ballia Selatan tempat pengungsian ketika ada perpindahan bangsa-bangsa.

Pengaruh soklastik sampai ke Irlandia, Nederland dan Jerman dan kemudian timbul disekolah kapittel yaitu sekolah yang dikaitkan dengan geraja. Pada awal skolasti adalah terdapat aliran Johanes Scotus Eriugena dari irlandia dan tokoh-tokoh lain yaitu Augustinus, Dionisios dan Areopagos, yang mengatakan. Zat yang demikian adalah alam semesta, alam adalah keseluruhan realita dan oleh karena hakekat alam adalah satu,esa. Alam yang esa. Pada zaman kejayaan Skolastik adalah metode yang dipakai Abaelardus ternyata membuka perspektif yang tidak terduga bagi filsafat dan ilmu teologia dan membangkitkan studi dalam ilmu kemanusia dan ilmu alam.

.DAFTAR PUSTAKA


Bertens.Dr.K. Sejarah Filsafat Yunani, Yogyakarta, 1975.

Bertens. Dr.K Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta , 1976.

Beerling,Dr.R.F.Filsafat dewasa ini, Jilid I, II, Jakarta, 1958.

Bochenski, J.M.Contemporary European Philosophy, translated bay D. Nichol and K. Aschenbrenner, London and Berkeley, 1956.

Collins,J.A .History of Modern Eurapean Philosophy, Milwaukee, 1954.

Copleston,F.A. Historys of Philosophy, London, Vol. I. Greece and Rome 1946,
Vol II. Mediaevl Phalosophy, Augustine to Scotus, 1950, Vol III . Ockham to Snarez, 1953, Vol IV. Descartes to Leibniz, 1958, Vol V . Hobbes to home, 1959, Vol VI. The French Englightenment to Kent, 1960, Vol VII. Fichte to Nietzsche, 1963, Vol VIII. Britis Empirism and the Idealist Movement in Great Britain and Idealisme in Amirica, The Pragmatist movement, The Revolt against Idealisme, 1967.

Dirjarkara, Prof.Dr.N.Pertjikan Filsafat, Jakarta, 1966.

Durant Wil, The Story of Philosophy, NewYork, 1952.

Friedman, W.”Teori Dan Filsafat Hukum (Judul Asli : “Legal Theory”).Penerjemah Muhammad Arifin, Jakarta : CV.Rajawali. 1990.

Fuller, B.A.G (Ph.D) History of Greek Philosophy, New York, 1923.

Gilson Etiene, History of Christian Philosophy in the Middie Ages, New York, 1954.

Harold H. Titus. Living Issues in Philosophya, New York : Amirika Book Company, Thirdd Edition 1959.

Hirschaberger,J.The History of Philosophy, translated by in Nineteenth Century, New York, 1967.
Loewith,K.From hegel to Nietzsche, The revolution in Nineteenth Century, New York, 1967.

Punadi Purbacaraka, Ridwan Halim.Filsafat Hukum Pidana.Jakarta :CV.Rajawali 1982.

Pound, roscoe.Pengantar Filsafat Hukum.Penerjemah : Muhammad Rajab. Jakarta : Bhratara, 1972.

Poedjowijatno, I.R, Pembimbing kearah Ilmu Filsafat, Jakarta, 1963.

Rudi T.Erwin. Tanya jawab Filsafat Hukum.Jakarta : Aksara Baru, 1982.

Sutikno.Filsafat Hukum.Jakarta :CV.Prima,1973.

Rupert, Lodge,F.R.S.The Great Thinkers, Boston, 1951.

Russel, Bertrant. A. History of Western Philosophy, London, 1947.

Wright,W.K, A history of modern European Philosophy, New York, 1941.

Wiliam Zelernyer. Internasional to Bussines Law The Macmillan Company, NewYork. London : Collier-Macmillan Limited, 1964.

FILSAFAT RASIONALISME, EMPERISME, KRTISISME

FILSAFAT RASIONALISME, EMPERISME, KRTISISME

Thursday, November 20, 2008

BAB I

PENDAHULUAN

Ada orang yang berkata, bahwa orang harus berfilsafat, untuk mengetahui apa yang disebut filsafat itu. Mungkin ini benar, hanya kesulitannya ialah: bagaimana ia tahu, bahwa ia berfilsafat? Mungkin ia mengira sudah berfilsafat dan mengira tahu pula apa filsafat itu, akan tetapi sebenarnya tidak berfilsafat, jadi kelirulah ia dan dengan sendirinya salah pula sangkanya tentang filsafat itu.

Menyibukkan diri dibidang filsafat bukanlah suatu kegiatan yang hanya dilakukan oleh segelintir ahli saja. Dalam kehidupan sehari-hari manusia dilindungi oleh aneka macam peristiwa yang langsung dialaminya, seperti bangun tidur, mengenakan pakaian, bekerja dan beristirahat. Atau yang tidak langsung sampai kepadanya, namun juga dianggap biasa saja, seperti misalnya berita dalam surat kabar atau radio mengenai perkembangan mutakhir dalam politik internasional, bencana alam disalah satu negeri nan jauh atau peristiwa-peristiwa menakjubkan.

Ketika itu dunia barat telah biasa membagi tahapan sejarah pemikiran menjadi tiga periode yaitu: Ancient, Medieval, dan zaman modern. Zaman modern sangat dinanti nantikan oleh banyak pemikiran manakala mereka mengingat zaman kuno ketika peradaban begitu bebas, pemikiran tidak dikekang oleh tekanan-tekanan diluar dirinya. Kondisi semacam itulah yang hendak dihidupkan kembali pada zaman modern.

Pada abab ke-13 di Eropa sudah timbul sistem filsafat yang boleh disebut merupakan keseluruhan. Sistem ini diajarkan disekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Dalam abab ke-14 timbulah aliran yang dapat dinamai pendahuluan filsafat modern. Yang menjadi dasar aliran baru ini ialah kesadaran atas yang individual yang kongkrit.

Tak dapat dipungkiri, zaman filsafat modern telah dimulai, dalam era filsafat modern, dan kemudian dilanjutkan dengan filsafat abab ke- 20, munculnya berbagai aliran pemikiran, yaitu: Rasionalisme, Emperisme, Kritisisme, Idealisme, Positivisme, Evolusionisme, Materalisme, Neo-Kantianisme, Pragmatisme, Filsafat hidup, Fenomenologi, Eksistensialisme, dan Neo-Thomisme.

Namun didalam pembahasan kali ini yang akan dibahas aliran Resionalisme (rene Descartes, spiniza, Leibniz), Empirisme (Francius Bacon, Thomas Hobbes. John lecke David Hume). Dan Kriticiusme ( imananvel kuat).


BAB II

PEMBAHASAN

A. RASIONALISME

Rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Menurut aliran rasionalisme suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir.

Latarbelakang munculnya rasionalisme adalah keinginan untuk membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional (scholastic), yang pernah diterima, tetapi ternyata tidak mampu mengenai hasil-hasil ilmu pengetahuan yang dihadapi. Pada tokoh aliran Rasionalisme diantaranya adalah Descartes (1596- 1650 M ).

1. Rene Descartes ( 1596- 1650 M )

Descartes disamping tokoh rasionalisme juga dianggap sebagai bapak filsafat, terutama karena dia dalam filsafat-filsafat sungguh-sungguh diusahakan adanya metode serta penyelidikan yang mendalam. Ia ahli dalam ilmu alam, ilmu hukum, dan ilmu kedokteran.

Ia yang mendirikan aliran Rasionalisme berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercayai adalah akal. Ia tidak puas dengan filsafat scholastik karena dilihatnya sebagai saling bertentangan dan tidak ada kepastian. Adapun sebabnya karena tidak ada metode berpikir yang pasti.

Descartes merasa benar-benar ketegangan dan ketidak pastian merajalera ketika itu dalam kalangan filsafat. Scholastic tak dapat memberi keterangan yang memuaskan kepada ilmu dan filsafat baru yang dimajukan ketika itu kerapkali bertentangan satu sama lain.

Descartes mengemukakan metode baru yaitu metode keragu-raguan. Seakan- akan ia membuang segala kepastian, karena ragu-ragu itu suatu cara berpikir. Ia ragu- ragu bukan untuk ragu-ragu, melainkan untuk mencapai kepastian. Adapun sumber kebenaran adalah rasio. Hanya rasio sejarah yang dapat membawa orang kepada kebenaran. Rasio pulalah yang dapat memberi pemimpin dalam segala jalan pikiran. Adapun yang benar itu hanya tindakan budi yang terang-benderang, yang disebutnya ideas claires et distinctes. Karena rasio saja yang dianggap sebagai sumber kebenaran, maka aliran ini disebut Rasionalisme.

2. Spinoza (1632- 1677 M)

Spinoza dilahirkan pada tahun 1632 M. Nama aslinya adalah barulah Spinoza ia adalah seorang keturunan Yahudi di Amsterdam. Ia lepas dari segala ikatan agama maupun masyarakat, ia mencita- citakan suatu sistem berdasrkan rasionalisme untuk mencapai kebahagiaan bagi manusia.menurut Spinoza aturan atau hukum ynag terdapat pada semua hal itu tidak lain dari aturan dan hukum yang terdapat pada idea. Baik Spinoza maupun lebih ternyata mengikuti pemikiran Descartes itu, dua tokoh terakhir ini juga menjadikan substansi sebagai tema pokok dalam metafisika, dan kedua juga mengikuti metode Descantes.

3. Leibniz

Gottfried Eilhelm von Leibniz lahir pada tahun 1646 M dan meninggal pada tahun 1716 M. ia filosof Jerman, matematikawan, fisikawan, dan sejarawan. Lama menjadi pegawai pemerintahan, pembantu pejabat tinggi Negara. Waktu mudanya ahli piker Jerman ini mempelajari scholastik.

Ia kenal kemudian aliran- aliran filsafat modern dan mahir dalam ilmu. Ia menerima substansi Spinoza akan tetapi tidak menerima paham serba tuhannya (pantesme). Menurut Leibniz substansi itu memang mencantumkan segala dasar kesanggupannya, dari itu mengandung segala kesungguhan pula. Untuk menerangkan permacam- macam didunia ini diterima oleh Leibniz yang disebutnya monaden. Monaden ini semacam cermin yang membayangkan kesempurnaan yang satu itu dengan cara sendiri.

B. EMPIRISME

Empirisme adalah salah satu aliran dalam filosof yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal. Istilah Empirisme diambil dari bahasa Yunani yaitu emperia yang berarti coba- coba atau pengalaman. Sebagai tokohnya adalah Francis Bacou , Thomas Hobbes, John Locker, dan David Hume. Karana adanya kemajuan ilmu pengetahuan dapat dirasakan manfaatnya, pandangan orang terhadap filsafat mulai merosot. Hal itu terjadi karena filsafat dianggap tidak berguan lagi bagi kehidupan. Pada sisi lain ilmu pengetahuan yang bermanfaat, pasti, dan benar hanya diperoleh lewat indra ( empiri) dan empirilah satu- satunya sumber pengetahuan. Pemikiran tersebut lahir denagn nama Empirisme.

1. Francis Bacon ( 1210- 1292 M )

Dari mudanya Bacon sudah mempunyai minat terhadap filsafat. Akan tetapi waktu dewasa ia menjabat pangkat- pangkat tinggi dikerjakan inggris kemudian diangkat dalam golongan bangsawan. Setelah berhenti dari jabatannya yang tinggi. Barulah ia mulai menuliskan filsafatnya.

Menurut Franccis Bacon bahwa pengetahuan ynag sebenarnya adalah pengetahuan yang diterima orang melaui persatuan inderawi dengan dunia fakta. Pengalaman merupakan sumber pengetahuan yang sejati. Denagn demikian bagi Bacon cara memcapai pengetahuan itupun segera nampak dengan jelasnya. Haruslah pengetahuan itu dicapai dengan mempengaruhi induksi. Haruslah kita sekarang memperhatikan yang konkrit, mengumpulkan, mengadakan kelompok- kelompok, itulah tugas ilmu pengetahuan.

2. Thomas Hobbes (1588- 1679 M )

Thomas hobbes adala seorang ahli piker yang lahir di Malmesbury, ia adalah anak dari seorang pendeta. Menurutnya bahwa pengalaman interawi sebagai permulaan segala pengetahuan. Hanya sesuatu yang dapat disentuh dengan inderalah yang merupakan kebenaran. Pengetahuan kita tak mengatasi pengindraan dengan kata lain pengetahuan yang benar hanyalah pengetahuan indera saja, yang lain tidak.

Ada yang menyebut Hobbes itu menganut sensualisme, karena ia amat mengutamakan sensus (indra) dalam pengetahuan. Tetapi dalam hubungan ini tentulah ia anggap salah satu dari penganut empirisme, yang mengatakan bahwa persantuhan denag indera( impiri) itulah yang menjadi pangkal dan sumber pengetahuan.

Pendapatnya adalah bahwa ilmu filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang sifatnya umum. Menurutnya filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan tentang akibat- akibat atau tentang gejela- gejela yang doperoleh. Sasaran filsafat adalah fakta, yaitu untuk mencari sebab-sebabnya. Segala yang ditentukan oleh sebab, sedangkan prosesnya sesuai dengan hukum ilmu pasti/ ilmu alam.

3. John Locke ( 1932- 1704 M )

John locke dilahirkan di Wrington, dekat Bristol, inggris. Ia adalah filosof yang banyak mempelajari agama Kristen. Disamping sebagai seorang ahli hukum ia juga menyukai filsafat dan teologi, mendalami ilmu kedokteran, dan penelitian kimia. Dalam mencapai kebenaran, sampai seberapa jauh (bagimana) manusia memakai kemampuannya.

Ia hendak menyelidiki kemampuan pengetahuan manusia sampai kemanakah ia dapat mencapai kebenaran dan bagimanakah mencapainya itu. Dalam penelitiannya ia memakai istilah sensation dan reflecaton. Sensation adalah suatu yang dapat berhubungan itu, reflection adalah pengenalan intuitif yang memberikan pengetahuan kepada manusia, yang lebih baik daripada sensation.

John lock berargumen:

a. Dari jalan masuknya pengetahuan kita mengetahui bahwa innate itu tidak ada, memang agak umum orang beranggapan bahwa innate itu ada. Ia itu seperti ditempelkan pada jiwa manusia, dan jiwa membawanya ke dunia ini. Sebenarnya kenyataan telah cukup menjelaskan kepada kita bagaimana pengetahuan itu dating, yakni melalui daya-daya yang alamiah tanpa bantuan kesan-kesan bawaan, dan kita sampai pada keyakinan tanpa suatu pengertian asli.

b. Persetujuan umum adalah argument yang terkuat. Tidak ada sesuatu yang dapat disetujui oleh umum tentang adanya innate idea justru dijadikan alasan untuk mengatakan ia tidak ada.

c. Persetujuan umum membuktikan tidak adanya innate idea.

d. Apa innate itu sebenarnya tidaklah mungkin diakui dan sekaligus juga tidak diakui adanya. Bukti-bukti yang mengatakan ada innate itu ada justru saya jadikan alasan untuk mengatakan ia tidak ada.

e. Tidak juga dicetakkan (distempelkan) pada jiwa sebab pada anak idiot ide yang innate itu tidak ada padahal anak normal dan akan “idiot sama-sama berpikir”.

4. David Hume ( 1711- 1776 M )

David Hume menjadi terkenal oleh bukunya. Buku hume, treatise of human nature (1739 M). ditulisnya tatkala ia masih muda, yaitu tatkala ia berumur dua puluh tahunan. Buku itu tidak terlalu banyak menarik perhatian orang, karenanya hume pindah kesubyek lain, lalu ia menjadi seorang yang terkenal sebagai sejarawan.

Kemudian pada tahun 1748 M ia menulis buku yang memang terkenal, yang disebutnya An Enqury Cincering Human Understanding, waktu mudanya ia juga berpolitik tetapi tak terlalu mendapat sukses. Ia menganalisa pengertian substansi. Seluruh pengetahuan itu tak lain dari jumlah pengaman kita.

Apa saja yang merupakan pengetahuan itu hanya disebabkan oleh pengalaman. Adapun yang bersentuhan dengan indra kita itu sifat-sifat atau gejala-gejala dari hal tersebut. Yang menyebabkan kita mempunyai pengertia sesuatu yang tetap – substansi – itu tidak lain dari perulangan pengalaman yang demikian acap kalinya, sehingga kita menganggap mempunyai pengertian tentang suatu hal, tetapi sebetulnya tidak ada substansi itu hanya anggapan, khayal, sebenarnya tidak ada.

C. KRITICISME (Immanuel Kant 1724-1804).

Aliran ini muncul pada abad ke-18 suatu zaman baru dimana seorang yang cerdas mencoba menyelesaikan pertentangan antara rasionalisme dengan emperisme. Zaman baru ini disebut zaman pencerahan (aufklarung) zaman pencerahan ini muncul dimana manusia lahir dalam keadaan belum dewasa (dalam pemikiran filsafatnya). Akan tetapi, seorang filosof Jerman Immanuel Kant (1724-1804) mengadakan penyelidikan (kritik) terhadap pernah pengetahuan akal.

Sebagai latar belakangnya, manusia melihat adanya kemajuan ilmu pengetahuan (ilmu pasti, biologi, filsafat dan sejarah) telah mencapai hasil yang menggembirakan. Disisi lain, jalannya filsafat tersendat-sendat. Untuk itu diperlukan upaya agar filsafat dapat berkembang sejajar dengan ilmu pengetahuan alam.

Pada rasionalimse dan emperisme ternyata amat jelas pertentangan antara budi dan pengalaman, manakah yang sebenarnya sumber pengetahuan, makanah pengetahuan yang benar? Seorang ahli pikir Jerman Immanuel Kant mencoba mengadakan penyelesaian pertalian ini. Pada umumnya, Kant mengikuti nasionalisme, tetapi kemudian terpengaruh oleh emperisme (hume). Walaupun demikian, Kant tidak begitu mudah menerimanya karena ia mengetahui bahwa emperisme membawa karagu-raguan terhadap budi manusia akan dapat mencapai kebenaran. Maka Kant akan menyelidiki (mengadakan kritik) pengetahuan budi serta akan diterangkan, apa sebabnya pengetahuan budi ini mungkin. Itulah sebabnya aliran ini disebut kriticisme.

Akhirnya, Kant mengakui peranan budi dan keharusan empiri, kemudian dicobanya mengadakan sintesis. Walaupun semua pengetahuan bersumber pada budi (nasionalisme), tetapi adanya pengertian timbul dari benda (emperisme) budi metode berpikirnya disebut metode kritik.


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Di dalam era filsafat modern terdapat beberapa aliran pemikiran, di antaranya: Rasionalisme, dan kriticisme.

Aliran rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa budi (akal) adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Aliran rasionalisme berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah akal. Metode yang digunakan pada aliran rasionalisme adalah metode keragu-raguan untuk berfilsafat.

Aliran Emperisme adalah salah satu aliran dalam filosof yang menekankan peranan pengalaman dalam memeroleh pengetahuan, dan mengecilkan akal. Aliran emperisme berpendapat bahwa pengetahuan yang bermanfaat, pasti, dan benar hanya diperoleh lewan indera (empiri) dan empirilah satu-satutnya sumber pengetahuan aliran Emperis, bahwa pada dasarnya budi dan empiri saling berkaitan. Aliran Kriticisme mengakui peranan badi dan keharusan empiri, meskipun pengetahuan bersumber pada budi (nasionalisme), tetapi adanya pengertian timbul dari benda (emperisme). Jadi metode berpikirnya disebut metode kritis.


DAFTAR PUSTAKA

  1. Poejawijatna, R.I. Prof. 1983. Pembimbing Kearah Filsafat, Jakarta: Rineka Cipta.
  2. Syadali, Ahmad. H. Drs, et. At. 1997, Filsafat Umum, Bandung: Pustaka Setia.
  3. achmadi Asmoro. 1995, Filsafat Umum, Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
  4. Peursen Van c.a. 1997, Orientasi Dalam Filsafat, Jakarta: PT. Gramedia.

Kamis, 09 Oktober 2008

solo kanan

Solo-Jogja : Perjumpaan Pluralisme
oleh Arif Amani pada 04-01-2008

Oleh Arif Amani

Solo-Jogja merupakan kota yang unik dan kaya sebagai perkembangan khazanah pemikiran bangsa. Berbagai pemikiran keagamaan dan ideologi bertemu dan berakulturasi di kota ini.
Di tengah-tengah kemegahan Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Keraton NgaJogjakarta, tiba-tiba Solo-Jogja menjadi lahan subur perkembangan Sarikat Islam dan Muhammadiyah. Solo-Jogja merupakan basis terbesar gerakan Muhammadiyah, baik dari sisi pendukung dan aset organisasi. Unik, karena wacana purifikasi agama yang ditawarkan oleh kedua ormas tersebut, berkembang di tengah-tengah pusat budaya yang sinkretis.

Wajah Purifikasi Agama
Purifikasi agama datang dengan warna-warni tradisi baru yang cenderung Arabis. Purifikasi identik dengan pembentukan komunitas baru dengan baju baru. Purifikasi lebih memilih jalan meninggalkan tradisi lama, tidak ada istilah kemas ulang. Muhammadiyah bukanlah Islam yang suka memilih jalan abu-abu.
Anehnya ormas terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama(NU) mati suri di wilayah ini. Walaupun orang Solo menjaga tradisi pitung dinan, nyatus, nyewu, bahkan haul, tetap saja mereka lebih bangga beridentitas Muhammadiyah daripada NU. Padahal NU mentradisikan nyewu, Muhammadiyah lebih memilih diam dan menghindar. NU sendiri memelihara pluralitas madzab yang menjamin melimpahnya teks yang dapat dijadikan yurisprudensi hukum. NU dianggap sebagai resistensi gerakan purifikasi.
Keraton sendiri sering di sebut sebagai pusat sinkretisme agama, pasca berkuasanya Sutowijoyo sebagai Sultan Mataram. Islam versi Demak telah berakhir. Singasana para wali(kyai) runtuh, Sutowijoyo lebih suka bersemadi di Pantai Selatan. Sutowijoyo menceraikan para kyai dan meminang ratu cantik, Nyi Roro Kidul. Peran politik Kyai-Nyai digusur oleh dominasi Ki-Nyi. Di satu sisi, gelar Ngabdul Rahman Sayidin Panatagama mengukuhkan absolutisme raja-raja Mataram sebagai hakim agama.
Di dalam dunia sosiologi, meminjam istilah almarhum Cliffordz Greetz, keraton mewakili kaum priyayi dan Muhammadiyah lebih tepat kita sebut kaum santri reformis. Lalu seberapa besar kekuatan politik kaum abangan?
PDI-P mencitrakan diri sebagai partai advokasi wong cilik, menolak formalisme agama, dan Pancasila adalah harga mati ideologi negara. PDI-P menjadi ikon resistensi terhadap gerakan Islam kanan.
Pasca reformasi juga menunjukkan adaptifnya Solo-Jogja terhadap berbagai gerakan trans-nasional. Isu-isu khilafah ala Hizbut-Tahrir di Yordania, gerakan formalisasi syari’ah ala Ikhwanul Muslimin di Mesir, gerakan Wahabi ala Arab Saudi hingga wajah radikalisme Islam mengalami perjumpaan di kota Solo-Jogja.
Kasus Bom Bali menjadikan kota Solo-Jogja tertuduh utama. Solo-Jogja menjadi persimpangan utama jalur teroris. Mungkin benar, titik pusatnya. Belum lagi berjubelnya ormas Islam di Solo-Jogja ini yang cenderung saling mandiri tanpa terlihat ikatan kultural yang jelas.
Sebagai aliran agama, ormas-ormas baru ini condong kepada konsep purifikasi agama. Di satu sisi, ini adalah mitra bagi Muhammadiyah. Namun, di sisi lain, menunjukkan gagalnya gerakan Muhammadiyah bermetamorfosis menjadi sebuah kultur sosial. Kapal Muhammadiyah telah pecah, gagal menampung berbagai tafsir purifikasi dan formalisasi agama di daerah basisnya.

Psikologi Masyarakat
Bagaimana memahami kontradiksi kultural-ideologis ini? Sebagai pusat kerajaan di Jawa, Solo-Jogja, telah menjadikan masyarakatnya intelek, adaptif dan kosmopolit. Orientasi kedudukan (jabatan) dan identitas modern melekat sebagai akibat kultur keraton.
Darah ningrat inilah yang kita warisi dari Keraton. Orang Solo-Jogja selalu terobsesi membuat darahnya menjadi biru kembali. Tak heran, bila orang Solo banyak menduduki posisi penting di pemerintahan pusat Jakarta. Orang Solo-Jogja lebih bangga memiliki jabatan daripada menjadi pengusaha kaya. Satu hal yang masih sakral dari keraton, gelar kebangsawanan. Orang berebut mendapatkannya.
Di Solo pejabat menempati kelas paling terhormat. Hal ini adalah reuni budaya tatkala rakyat begitu patuh menghadiri pisowanan di alun-alun. Rakyat merasa terhormat dan bangga bertemu Sri Susuhunan. Di Demak, kyai menempati strata sosial paling atas. Singgasana para kyai masih kokoh di Pantura.
NU menempatkan posisi kyai di atas pejabat. Hambatan psikologis inilah yang menghambat perkembangan NU di Solo-Jogja. Budaya-budaya NU diterima namun identitas NU ditolak. Stigmatisasi tradisionalisme di tubuh NU berlawanan dengan kultur intelek dan modern darah biru keraton. Muhammadiyah yang dianggap lebih akomodatif dengan kelas priyayi jauh lebih berkembang. Singkatnya, kaum ningrat(priyayi) malu berbaju NU. NU itu kampungan dan miskin.
Tatkala budaya keraton ditinggal di museum, terjadi kekosongan budaya di Solo-Jogja. NU gagal berkembang. Muhammadiyah masih saja diam, maka budaya trans-nasional menyerang Solo-Jogja.
Mungkin selamanya, dangdutan, koes plus-an, dan konser musik impor yang akan menghiasi THR Sriwedari. Seperti sulitnya menggusur kemenangan PDI-P dari kota ini. Kulturalisasi agama tidak bergerak dari hasil yang selalu prematur. Dangdut adalah simbol wong cilik. Kaum abangan inilah mayoritas sesungguhnya.. Mereka punya model keIslaman tersendiri.

Penulis adalah pemerhati sosial,
aktivis Lakpesdam (Lembaga
Kajian dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia) NU
Kab. Karanganyar

solo radical

Solo: Yang Membunuh Seraya Tersenyum

May 11th, 2008 | memori, solo

Kota Solo dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa, yang halus dan bermartabat. Namun, secara paradoksal, dia juga menjadi ladang radikalisasi rakyat turun-temurun. Kota ini hampir senantiasa menjadi pelopor gerakan anti-etnis Cina, sejak berabad lalu. Kenapa itu semua terjadi?

Sebagian Toserba Sami Luwes, Solo, dibuka kembali pekan lalu. “Untuk mengejar Natal dan Tahun Baru. Juga Lebaran,” kata seorang pegawai toko itu. Toserba itu telah mengalami istirahat panjang setelah menjadi sasaran amuk massa Mei 1998, menyertai
jatuhnya Soeharto.

Porak-poranda dan sempat menjadi “ladang pembakaran”, Solo kini pelan-pelan beringsut ke situasi normal, meski belum semegah seperti dua tahun silam. Setelah kerusuhan Mei 1998, Solo kini hanya memiliki satu supermarket bergengsi, yakni Matahari, yang dibangun setahun lalu. Itu pun kini terkesan sumpek dan padat. Pendek kata, sebagian penduduk Solo kini tak lagi merasakan kehidupan modern seperti tahun-tahun sebelumnya.

Kerusuhan Mei lalu di Solo merupakan peristiwa kekerasan terbesar di luar Jakarta. Bahkan untuk ukuran Solo sendiri, peristiwa itu secara kuantitatif lebih besar dari kerusuhan-kerusuhan serupa pada masa lalu. Untuk menunjukkan skala tragedi: rusak 348 rumah, kantor, hotel, toserba, dan gedung bioskop. Sekitar 297 mobil dan 570 sepeda motor hangus.

Seperti pada waktu-waktu lalu, etnis Cina menjadi korban empuk kerusuhan. Namun, khususnya pada Mei itu, protes bukan lagi terbatas pada keresahan ekonomi berbasis rasial, melainkan berbau politik. Salah satu rumah yang terbakar adalah milik Harmoko-Ketua Umum Golkar dan Ketua DPR/MPR kala itu. Pembakaran
itu bisa dikatakan juga merupakan simbol kemuakan massa terhadap Golkar serta kebijakan “kuningisasi” yang kelebihan dosis.

Kenapa itu bisa terjadi, sementara selama ini kota Solo dikenal berpenduduk “sopan, lemah-lembut, dan manis”?

Pertanyaan seperti itulah yang ingin dijawab oleh Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP) Solo. Lembaga swadaya masyarakat ini mencoba mencari akar-akar keresahan masyarakat Solo. Dan hasilnya, meski belum final, adalah sebuah buku setebal 658 halaman, berjudul Runtuhnya Kekuasaan Kraton Alit:
Studi Radikalisasi Sosial Wong Solo dan Kerusuhan Mei 1998 di Surakarta.

Menurut M. Hari Mulyadi, koordinator LPTP, dari penelitian itu diperoleh data adanya proses tarik-ulur-antara konflik dan penyatuan-dalam masyarakat Solo sejak pertengahan abad ke-18 hingga akhir abad ke-20. Konflik-konflik itu memiliki persamaan yang khas. Pertama adalah power struggle. Kedua adanya benturan nilai (value struggle) dalam upaya perebutan pengaruh dan hegemoni-baik sosial, politik, ekonomi, budaya, maupun agama.

Pada kenyataannya, Solo memang kota di Jawa yang paling dinamis sejak sebelum kemerdekaan. Dia menjadi ajang pembentukan organisasi-organisasi pergerakan dan partai-partai politik. Sarekat Islam (SI) dan Partai Komunis Indonesia (PKI)-dua partai besar pada masa Orde Lama-memang berawal dan membesar dari sini. Bahkan citra “kawah Candradimuka para politisi” itu belum berhenti hingga kini. Dari kota ini pula muncul orang seperti Amien Rais dan Sri Bintang Pamungkas.

M.T. Arifin, peneliti sosial lain yang juga berminat menyimak kasus kerusuhan Solo ini, mengatakan bahwa kerusuhan yang terjadi pertama-tama merupakan hasil dari kondisi sosial di sana. Teori konspirasi atau rekayasa dari pusat, menurut Arifin, tidak secara signifikan bisa menjelaskan asal-muasal kerusuhan
itu.

Apa yang ada, menurut Arifin, adalah fenomena radikalisme kejawen. “Memang ada citra lemah lembut, tapi bukan berarti ramah,” kata Arifin. “Orang Solo itu bisa membunuh dengan tersenyum.” Radikalisasi terus berlangsung. Konflik sosial yang gampang meletup dalam bentuk kekerasan terus-menerus terjadi di
Solo dengan pemicu yang beragam.

Solo sebenarnya merupakan salah satu kota pedalaman Jawa yang relatif maju. Benturan politik, salah satu faktor utama, telah muncul sejak abad ke-16, yakni pada masa Sultan Pajang, Mataram. Konflik itu terjadi antara kelompok pribumi dan Cina menyangkut penguasaan tanah perkebunan.

Pada era kolonial, konflik makin banyak terjadi karena Solo merupakan pertemuan pasukan kerajaan (dan kolonial) dengan pemberontak. Semua pemberontakan dalam Kerajaan Mataram berawal dari Solo, termasuk misalnya pemberontakan Diponegoro.

Meski pemicunya bisa beragam, ada faktor yang tetap: kelompok etnis Cina selalu menjadi sasaran penjarahan dan perampokan. Namun, menurut Arifin, kerusuhan di Solo tidaklah mencerminkan
persoalan etnis. “Masalahnya lebih pada persepsi tentang dominasi ekonomi, politik, dan agama,” katanya. Dalam kerusuhan Mei lalu, menurut Arifin, sebagian para penjarahnya juga datang dari kalangan Cina. Orang pribumi bahkan juga melindungi orang-orang Cina yang tinggal di kampung-kampung mereka.

Drama di Solo Baru, sebuah kota satelit yang modern, juga menunjukkan bahwa kerusuhan itu tidak pertama-tama diilhami oleh sentimen rasial. Banyak orang Cina kaya tinggal di permukiman mewah itu. Namun, ketika ribuan orang datang merangsek, para perusuh ternyata hanya membakar rumah Harmoko dan Gedung Bioskop 21 milik Sudwikatmono.

Tak pelak lagi. Solo pada dasarnya adalah sebuah “melting pot” dari beragam kelompok: kultural, politik, dan ekonomi. Telah lama sebenarnya Solo dan rajanya memiliki hubungan yang mendunia. Sejak berabad
lalu, mereka sudah melakukan komunikasi dengan masyarakat India, Arab, Turki, dan Cina. Tak heran jika
raja Solo diberi gelar Sunan Khalifatullah Sayidin Panatagama Pakubuwono. Artinya: raja wakil Tuhan di bumi yang memimpin agama dan mampu membawa kemakmuran bagi seluruh dunia. Istilah itu mencerminkan semangat universalisme dan kosmopolitanisme yang menyeluruh.

Namun sayang, sejak masa kolonial, berbagai kelompok itu tidak menemukan cara yang bermartabat untuk melakukan tawar-menawar akibat dominasi dan manipulasi oleh negara. Pemerintah kolonial Belanda, Orde Lama, dan Orde Baru, menurut Hari Mulyadi, telah menghilangkan watak holistik (kosmopolit dan menyeluruh) dari kultur tradisional. “Mereka mencoba melecehkan watak holistik itu dengan menyingkirkan keaslian dan keautentikan kreatif wong Solo.”

Represi yang dilakukan penguasa terdahulu tidak menolong Solo meredam hasrat pemberontakannya. Bahkan kian menjadi-jadi. “Karena kehilangan watak holistiknya, kultur tradisional itu kurang peka terhadap watak dinamis rakyat yang mulai terbuka terhadap informasi yang maju pesat,” katanya.

Menurut Hari Mulyadi, amuk massa yang bersifat distorsi muncul sebagai akibat rakyat kehilangan kesabaran atas penindasan oleh penguasa di tengah keterbukaan politik yang kian berembus. Untuk mengobatinya, tak bisa tidak adalah dengan memenuhi kebutuhan dasar warga Solo dengan mempromosikan kemandirian sosial, keadilan sosial, dan partisipasi masyarakat. Kebutuhan dasar
tersebut akan terpenuhi jika terjadi komunikasi atau dialog vertikal ataupun horizontal yang berlangsung secara cepat, akurat, dan terbuka, yang melibatkan semua pihak. Tidak ada yang merasa dipinggirkan. Tidak ada yang merasa harus marah.

*) Kiriman Om Wicak, TEMPO edisi 991219-041/Hal. 39 Rubrik Selingan. Suwun Om.

Senin pagi ini setelah membaca kembali tulisan diatas, membuat saya ingin menangis teringat kisah 10 tahun lalu, saya bersepeda putar kota karena gatal mencari apa yang sedang terjadi di kota itu bersama kawan yang berakhir tragis.

Rabu, 08 Oktober 2008

Funamentalis solo 1

Sunday, June 17, 2007
Islam Radikal di Solo dari Kelompok Muslim Modernis (Tulisan Pertama)
24-5-2007
Oleh : ROBI SUGARA/SYIRAH

Nama Ismail Yahya tak begitu populer di kancah nasional. Apalagi soal isu-isu gerakan Islam radikal di Indonesia. Tapi pria kelahiran Riau, 9 April 1975 ini pernah meneliti gerakan Islam di Surakarta. Di antaranya Islam Radikal di Surakarta dan respon masyarakat Kristen yang sekaligus dijadikan tesisnya. Kemudian, lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Program Center for Religious anda Cross Cultural Studies (CRCS) pernah meneliti juga soal “Ancaman Kelompok Radikal Muslim di Surakarta antara Mitos atau Relitas”.

Dalam sejarah gerakan Islam di Indonesia Surakarta merupakan salah satu kota terpenting. Karena dari sinilah lahir Syarikat Dagang Islam pada tahun 1905, sebuah gerakan Islam terorganisir pertama dalam sejarah Indonesia. Saat ini berbagai gerakan Islam juga meruyak di sana yang dipelopori oleh berbagai organisasi yang beraneka ragam alirannya, terutama kelompok radikal.

Untuk mengikuti lebih lanjut soal kondisi gerakan Islam di Solo, berikut petikaan wawancara antara Robi Sugara, kontributor Syirah, pada 23 Mei 2007 dengan Ismail Yahya yang juga lulusan IAIN Walisongo Semarang dan saat ini beliau adalah dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Surakarta.

Secara umum bagaimana gerakan organisasi Islam di Solo, Jawa Tengah, jika dilihat dari mulai perkembangan dan hingga kini?

Gerakan organisasi Islam di Solo bermula pada tahun 1905 berdiri Serikat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh pengusaha batik Solo, dengan ketuanya H. Samanhudi, kemudian berubah menjadi Sarekat Islam (SI). Selama masa masa awal kemunculannya SI selalu mengedepankan semangat nasionalisme Islam Jawa untuk menggalang dukungan dari kalangan rakyat.

Maka wajar kemudian SI sering terlibat dalam gerakan protes, baik pada pemerintahan kolonial maupun pada pihak keraton Surakarta Hadiningrat. Setelah kantor pusat SI pindah ke Surabaya, SI Solo, lebih cenderung pada gerakan Islam Marxis yang dibawa oleh Haji Misbah. Gerakannya tetap menyuarakan pembelaan pada kaum tertindas.

Pada saat yang sama setelah tahun 1912 Muhammadiyah berdiri di Jogjakarta, di Solo Muhammadiyah berkembang dengan pesat. Mereka banyak mendirikan pusat-pusat pengajaran dan klinik kesehatan. Di tahun 1935 kota Solo digunakan sebagai tempat muktamar NU (Nahdlatul Ulama) ke-10 yang sekaligus menandai gesekan konflik baru antara Muhammadiyah dengan NU yang lebih sinkretis.

Pasca kemerdekaan gerakan Islam di Solo lebih terpengaruh pada kondisi dan isu nasional. Hal ini berlangsung sampai pada tahun 1998 ketika terjadi momentum reformasi. Gerakan Islam di Solo terbagi menjadi dua bagian besar. Pertama yang moderat dan kedua yang radikal. Yang moderat diwakili oleh NU dan Muhammadiyah sedangkan yang "radikal" diwakili MMI, HTI, FPIS, LUIS dan FKAM

Bisa Anda sebutkan berapa jumlah organisasi Islam di Solo saat ini?

Kalau menyebut jumlah pastinya agak sulit. Tapi mengikuti pemetaan yang umum berlaku misalnya saya sebutkan, pertama: Organisasi mainstream moderat yaitu, NU dan organisasi-organisais yang berafiliasi ke-Nu seperti Lembaga Dakwah NU (LDNU), Serikat Buruh Muslim Indonesia (SARBUMUSI), Lajnah Kajian Dan Pemberdayaan Sumberdaya Manusia (LAKPESDAM-NU), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Muslimat, Fatayat, Jamaah Thariqoh Mu’tabarah An Nahdhiyah, IPPNU-IPNU, Ansor, Banser dan Ikatan Cendekiawan NU (ICNU).

Kedua, Muhammadiyah dan organisasi yang berafiliasi ke Muhammadiyah, seperti Pemuda Muhammadiyah, Aisyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Ikatan remaja Muhammadiyah (IRM), dan JIMM (jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah)

Kemudian, organisasi non mainstream dianggap “sempalan” seperti Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Inkarus Sunnah. Kusus. LDII ini memiliki cabang yang tersebar secara merata di Surakarta.

Selain itu, ada organisasi non mainstream yang dianggap "radikal" misalkan FPIS (Front Pemuda Islam Surakarta), bukan Front Pembela Islam-nya Habib Rizieq Shihab, sebab FPIS didirikan di Solo dan tidak ada keterkaitan dengan FPI-nya Habib Rizieq, FKAM (Forum Komunikasi Antar Masjid), LUIS (Laskar Umat Islam Surakarta), Laskar Hizbullah Sunan Bonang, Laskar Hizbullah Bulan Bintang, Barisan Bismillah, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI)

Siapa organisasi yang paling dominan berperan di Solo?

Kalau disebut paling dominan mungkin akan bersifat relatif, sebab masing-masing organisasi memiliki tingkat dominasi yang berbeda pada sektor yang berbeda pula. Misalnya Muhammadiyah memiliki dominasi yang kuat di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Jumlah sekolah Muhammadiyah di Surakarta banyak sekali mulai dari TK, MI/SD, SMP/MTS, MA/ SMA/SMK sampai perguruan tinggi ada. Bahkan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) merupakan perguruan tinggi swasta paling besar di Surakarta.

Di bidang kesehatan Muhammadiyah memiliki PKU Muhammadiyah yang merupakan rumah sakit besar, disamping Muhammadiyah juga memiliki klinik klinik-kesehatan yang tersebar di berbagai tempat di Surakarta. Demikian juga jaringan ekonomi Muhammadiyah sangat bagus dan terbukti telah mampu memberi konstribusi positif bagi peningkatan kesejahteraan anggotanya.

Kalau NU lebih dominan pada adat, tradisi dan kemasyarakatannya. Hal ini didukung oleh paham keagamaan NU yang fleksibel dan mampu berakulturasi dengan budaya Jawa khusunya Surakarta. Sedangkan kelompok lain seperti MTA (Majelis Tafsir Al-Qur’an) dipimpin oleh H. Ahmad Sukina, dominan pada bidang penerbitan dan dakwah lewat radio MTA. Jadi masing masing organisasi memiliki dominasi yang berbeda pada sector yang berbeda pula, tetapi dalam pencitraan di Surakarta organisasi Muhammadiyah dan MTA yang paling berhasil.

Anda pernah meneliti soal gerakan Islam radikal di Solo, hasilnya?

Saya pernah meneliti beberapa gerakan Islam radikal, di antaranya, Front Pemuda Islam Surakarta (FPIS), Forum Komunikasi Aktivis Masjid (FKAM)-Laskar Jundullah, Barisan Bismillah (BB), Brigade Hizbullah Partai Bulan Bintang (BHPBB), dan Gerakan Pemuda Islam Cabang Surakarta (GPI).

Saya melihat model kepemimpinan mereka secara umum kepemimpinan kelompok radikal Muslim di Surakarta didominasi oleh kelompok non-ulama dan berasal usul dari etnis Jawa. Terdidik dari latar belakang pendidikan non agama, sementara mereka memperoleh pengetahuan agama dari kelompok pengajian agama, bukan dari lembaga pendidikan formal keagamaan seperti pesantren atau madrasah. Dan kebanyakan dari mereka juga dikategorikan ke dalam kelompok muslim modernis.

Anda melihat kemunculan organisasi itu lebih pada faktor apa?

Untuk FPIS saya melihat respons terhadap konflik Muslim-Kristen di kepulauan Maluku; respons terhadap praktek-praktek maksiat; reaksi terhadap “serangan” satgas partai politik tertentu; reaksi terhadap kelompok kriminal dan preman; perlawanan terhadap “Kristenisasi.”

Kemudian FKAM adalah respons terhadap instabilitas ketika jatuhnya pemerintahan Orde Baru; dan membangkitkan rasa percaya diri orang Islam Surakarta. Barisan Bismillah adalah respons terhadap konflik Muslim-Kristen di Maluku; dan sebagai penjaga ummah Muslim. Barisan Hizbullan Bulan Bintang karena untuk menjaga PBB (Partai Bulan Bintang) dan umat Islam. GPI untuk menjadi wadah pergerakan generasi muda Muslim independen. Dan sementara Laskar Hisbullah Sunan Bonang untuk mempertahakan Islam dan “perang” terhadap kemaksiatan dan perilaku immoral.

fundamentalisme3

Pencarian akar fundamentalisme Islam
oleh Nader Hashemi

Cetak
Email
Evanston, Illinois – Bagaimana caranya menjelaskan kebangkitan fundamentalisme Islam dewasa ini? Mengapa pada zaman akal budi, rasionalitas, dan sekulerisme sebagian umat Muslim malah condong dan mendekap erat konsep fundamentalis agama? Dunia Muslim kelihatannya didominasi oleh kaum Muslim fundamentalis, dari kelompok-kelompok radikal fundamentalis seperti Al Qaeda dan Taliban hingga organisasi-organisasi arus utama seperti Ikhwanul Muslimin (di Mesir) dan Jamaat-e Islami (di Pakistan). Kemanakah kita harus mencari jawabannya? Sejarah dan sosiologi, lebih memberikan obor untuk menerangi fenomena sosial yang sedang tumbuh ini dibandingkan ideologi.

Sepanjang sejarah manusia, perubahan sosial besar dan pergolakan politikselalu diiringin kebangkitan kembali agama. Inilah fenomena sosiologis dan sejarah yang dapat diamati melintasi batas-batas negara, suku bangsa, dan peradaban. Selama pendudukan bangsa Mongolia atas Rusia (1237-1480), misalnya, Gereja Ortodoks mengalami salah satu masa pertumbuhannya yang terbesar. Fenomena serupa juga terjadi di Amerika Serikat pada pertengahan abad kesembilan belas di awal Revolusi Industri. Secara sederhana, gejolak sosial mendorong orang mencari kestabilan dan keamanan dengan kembali ke sesuatu yang mendasar dan akrab dengan mereka, yaitu agama. Hal itulah yang juga dialami oleh masyarakat Muslim.

James Piscatori dengan tajam mengatakan bahwa "agama, terutama karena pada masa lalu telah menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang hidup dan mati dan memberikan para penganutnya hubungan moral antara satu dengan yang lain, menjadi sarana yang memberikan orang harapan untuk menjawab pertanyaan baru tentang cara menjadi modern, dan, dengan melakukan hal tersebut, mungkin bisa memperoleh pandangan umum tentang dunia yang lebih meyakinkan. Dalam hal ini, seorang Kristen yang dilahirkan kembali dan seorang Muslim yang menutup dirinya kembali merupakan reaksi yang sama atas fenomena umum tersebut." Berbagai pergolakan yang berhubungan dengan modernitas, seperti yang dinyatakan Piscatori, sangat penting untuk memahami kebangkitan fundamentalisme keagamaan.

Modernisasi, harus ditekankan, merupakan sebuah proses yang traumatis. Barat, membutuhkan waktu ratusan tahun dan proses jatuh bangun untuk mengembangkan berbagai institusi sekuler dan demokratis mereka. Perang agama antar umat Kristen, penganiayaan politik, pemusnahan bangsa, Revolusi Industri, pemerasan tenaga kerja, kebangkitan nasionalisme, dan dua perang dunia telah menghasilkan perubahan masif dalam segala aspek kehidupan – politik, ekonomi, intelektual, dan keagamaan. Dewasa ini kita tengah menyaksikan proses perubahan yang sama, berikut dampak-dampaknya, di berbagai negara berkembang. Hanya saja perubahan-perubahan ini berlangsung lebih cepat di Dunia Muslim (dalam paruh terakhir abad 20) dibandingkan dengan di Barat yang berlangsung selama ratusan tahun.

Penting artinya untuk menghargai bahwa proses modernisasi yang berlangsung di dunia Muslim sangat berbeda dalam berbagai hal. Tidak seperti di Eropa di mana proses tersebut sebagian besar didorong dari dalam masyarakat, dalam masyarakat Muslim, modernisasi muncul sebagai akibat dari sentuhan kolonial dengan bangsa Eropa. Apa yang kini dilakukan oleh umat Muslim dalam mengejar ketertinggalan mereka dari Barat merupakan kegiatan meniru, bukan inovasi. Negara-negara Muslim di masa post-kolonialisme telah terbagi secara tidak sehat ke dalam dua kubu: kelompok elit, yang memperoleh pendidikan Barat dengan nilai-nilai sekulernya dan kelompok mayoritas yang tak mendapatkan semua itu. Pemerintahan-pemerintahan banyak dikuasai oleh rezim-rezim gerontokrasi yang terdiri atas para lelaki berusia lanjut, sementara mayoritas penduduk mereka berusia di bawah 30 tahun. Kebanyakan perubahan politik sejak masa kemerdekaan formal dipaksakan dari atas ke bawah dengan melakukan percepatan, bukan dari bawah ke atas melalui prosesevolusi sosial dan negosiasi demokratis dari dalam masyarakat sendiri.

Pada tahun 1935, misalnya, Reza Pahlavi (ayahanda dari Shah terakhir) memerintahkan pasukannya turun ke jalanan Teheran untuk secara paksa membuka – dengan ancaman bayonet – cadar yang menutupi wajah kaum perempuan. Kebijakan ini disaingi oleh negara tetangga Turki di bawah pimpinan Mustafa Kemal Atatürk yang dengan keras membuat masyarakat Turki menjadi sekuler dan Barat. Dua generasi kemudian, dengan cara yang sama otoriternya dengan pencopotan cadar monarki Pahlavi, Ayatullah Khomeini dan revolusioner Islam-nya memaksa para perempuan Iran memasang cadar. Demikian pula dengan kebangkitan politik Islam di Turki yang sebagian dapat dijelaskan sebagai reaksi balasan terhadap pemaksaan dari atas ke bawah kebijakan-kebijakan sekuler Kemal terhadap masyarakat yang taat beragama– 99,8 % merupakan umat Muslim –hingga menghapus karakter ke-Islam-an Turki. Dari latar belakang inilah kita seharusnya menempatkan dan mempelajari kebangkitan fundamentalisme Islam, yaitu sebagai sebuah fenomena sejarah.

Mencari jawaban yang mudah atas fenomena sosial yang begitu rumit memang menggoda hati. Dalam hal perdebatan mengenai fundamentalisme Islam, penjelasan yang ada lebih sering memusatkan perhatian pada karakter doktrin Islam dan prasangka akan etos anti modernisasinya. Betapapun menggodanya, khususnya pasca 11 September, memusatkan perhatian secara khusus kepada ideologi dengan mengabaikan sosiologi dan sejarah akan membatasi pemahaman kita dan mengaburkan penilaian kita atas topik yang penting dan emosional ini.

###

* Nader Hashemi adalah mahasiswa doktoral dalam ilmu politik di Northwester
University. Ini adalah artikel keduanya dari enam artikel dalam sebuah seri
tentang kebangkitan kembali agama dan hubungan Muslim-Barat yang didukung oleh Common Ground News Service (www.commongroundnews.org).

Sumber: Common Ground News Service (CGNews), 19 September 2006, www.commongroundnews.org.
Hak cipta untuk publikasi telah diperoleh.




EDISI TERBARU







EDISI KHUSUS
Hubungan Muslim-Yahudi - 2008







ARSIP ARTIKEL
Silakan baca artikel-artikel kami terdahulu.







PANDANGAN KAUM MUDA
Berbagai perspektif kaum muda yang menarik dan beragam dari seluruh dunia.